STUDY TOUR KE SOLO
Banyak
orang menganggap bahwa sejarah hanyalah sesuatu yang tinggal kenangan, akan
tetapi kenangan dari suatu sejarah sebenarnya menyimpan berbagai misteri yang
dapat dijadikan petunjuk bahkan manfaat bagi kehidupan yang akan datang.
Seperti yang sering dikatakan bung karno tentang ‘Jas Merah’, jangan
sekali-kali melupakan sejarah. Kata-kata itu bagiku menyiratkan rasa
eksistensisme yang tinggi, tak ingin dilupakan dan ingin selalu dikenang. Akan
tetapi, kata-kata itu bila dipikir memang tak ada salahnya. Sejarah memang
perlu untuk diingat agar kita tidak terlalu terlena dengan masa depan dengan
melupakan proses kita menuju masa depan itu sendiri. Sudah semaju apapun suatu
zaman, kita tetap tidak bisa memungkiri bahwa suatu saat nanti mungkin sejarah
akan berulang. Dan memang itulah yang sering terjadi. Oleh karena itu sejarah
bisa dijadikan pelajaran bagi kita untuk lebih hati-hati menjalani masa depan.
Dalam sejarah media dan komunikasi sendiri telah
mengalami suatu cerita yang cukup panjang. Dimulai dengan cara komunikasi yang
masih konvensional hingga akhirnya ada media baru yang lebih memudahkan kita
untuk berkomunikasi dengan orang lain dengan meminimalisir jarak ruang dan
waktu kita dalam berkomunikasi jarak jauh. Berbagai media mulai ditemukan oleh para
ahli mulai dari telegram, telepon, radio, koran, majalah, televisi hingga
internet. Selain itu perlu diketahui bahwa media dalam komunikasi tidak hanya
melewati media-media yang telah saya sebutkan di atas tetapi juga melalui media
lain seperti musik, puisi, film, dll. Media tersebut dari waktu ke waktu telah
melewati berbagai masa sehingga ada berbagai perubahan teknis seiring makin
berkembangnya suatu zaman.
Untuk lebih memahami proses perubahan yang terjadi
pada media-media tersebut, diajaklah seluruh mahasiswa kelas Sejarah Ilmu
Komunikasi dan Media ke Solo mengunjungi berbagai tempat yang dapat menjadi
saksi tentang media dari masa ke masa. Dalam perjalanan satu hari di hari
Kamis, 2 Mei 2013 kemarin kami mendapat kesempatan untuk mengunjungi tiga
lokasi yang dapat membantu kita untuk lebih memahami sejarah komunikasi dan
media. Diantaranya adalah Lokananta, Monumen Pers Nasional, serta Festifal Film
Solo.
Cukup lamanya perjalanan yang kita tempuh kurang lebih
selama dua jam itu dapat terobati dengan kunjungan kita ke Lokananta. Lokananta
ini pada awalnya merupakan suatu pabrik yang khusus merekam dan memproduksi
piringan hitam untuk bahan siaran 27 Studio RRI di seluruh Indonesia yang
diresmikan pada tahun 1956. Sedikit cerita nama ‘Lokananta’ diambil dari sebuah
cerita pewayangan yang legendaris. Dalam cerita tersebut ternyata terdapat
seperangkat Gamelan yang berasal dari Suralaya, istana Dewa-dewa di Khayangan.
Konon katanya gamelan Lokananta tersebut dapat berbunyi sendiri tanpa adanya
penabuh dengan suara yang menggema, syahdu, dan indah sekali. Oleh sebab itu
nama ini diambil dengan harapan suara yang dihasilkan oleh Lokananta akan indah
seperti suara gamelan tersebut.
Lokananta
yang saat ini dipimpin oleh Bapak Pendi Hariyadi hanya dijalankan oleh
segelintir orang saja. Dahulu kala pada masa kejayaan Lokanantaa di era 60-70an
karyawannya dapat mencapai 150 orang yang terdiri dari karyawan RRI dan
Departemen Penerangan sebanyak sekitar 80%, sisanya adalah karyawan khusus
Lokananta. Sejak tahun 2000 Lokananta dinyatakan pailit akibat tak kuat menahan
gempuran pesaing-pesaing baru di bidang industri rekaman. Pada zaman kejayaan,
Lokananta adalah Mayor label rekaman atau merupakan yang Pertama di Indonesia.
Dalam sejarahnya Lokananta ternyata telah melahirkan berbagai musisi tersohor
hingga saat ini, sebut saja Titik Puspa, Gesang, Adi Bing Slamet, Waljinah, dan
masih banyak lagi.
Akan
tetapi sejak banyaknya label rekaman baru yang lebih popular, kejayaan
Lokananta mulai surut hingga pada akhirnya tahun 1998-2000 mengalami vakum
tidak melakukan kegiatan produksi. Akan tetapi, mulai tahun 2004, Lokananta
mencoba untuk berdiri kembali membangun keterpurukannya dengan adanya semangat
dari para karyawannya untuk melestarikan kebudayaan Indonesia. Lokananta memang
lebih mengangkat unsur kebudayaan tradisional Indonesia sehingga tidak heran
produk musiknya lebih kepada Genhing-gendhing Jawa, keroncong, dll. Akan
tetapi, saat ini Lokananta tidak menutup kemungkinan untuk merekam jenis musik
lain seperti pop, jazz, orchestra, dll. Salah satu langkah yang ditempuh
Lokananta untuk bangkit adalah dengan melakukan usaha mandiri karena perlu
diketahui bahwa pendapatan tidak mereka dapatkan dari pusat meski telah
dibawahi oleh PNRI. Usaha mandiri dengan membuka rekaman bagi umum, menerima
kunjungan, serta menyewakan sebagian lahan mereka untuk tempat futsal dan rumah
makan adalah cara-cara mereka untuk bertahan mencari penghasilan mereka
sendiri.
Pelu
diketahui bahwa meski Lokananta telah berdiri dari sekian puluh tahun tetapi
mereka tetap menjaga sekali kualitas yang mereka miliki sejak zaman dulu.
Dengan peralatan yang tidak sembarangan serta menjaga asset-aset penting musik
Indonesia dengan sangat baik dan terawat. Hal ini dapat dilihat dari alunan
lagu yang sudah lama ada masih terdengar jernih, indah, serta nyaman
didengarkan. Dibalik perjuangan mereka selama ini ternyata ada satu harapan
yang masih mereka perjuangkan hingga saat ini yaitu menjadikan Lokananta
menjadi Meseum Musik Indonesia.
Lanjut
detinasi kedua kita tidak kalah menarik yaitu Monumen Pers nasional yang
terletak di Jalan Gajah Mada nomor 59 Surakarta. Tempat ini sungguh mencolok
karena berada di pojok perempatan dengan model bangunan yang menarik perhatian
siapa saja yang melewati jalan itu. Seperti namanya tempat ini menyimpan
berbagai dokumen-dokumen penting dalam sejarah pers nasional. Berbagai bentuk
peninggalan yang ada terkait pers seperti mesin ketik, koran, majalah dari
zaman sebelum kemerdekaan ada di sini. Monumen ini pun diresmikan langsung oleh
Presiden Soeharto pada tahun 1978. Akan tetapi, monumen ini ternyata tidak
sekedar menyimpan berbagai arsip penting pers nasional tetapi juga menyediaakan
pelayanan bagi masyarakat seperti perpustakaan, diorama, monitor layar sentuh
di mana kita dapat mencari dokumen melalui computer, melakukan pameran tematis,
serta menerima kunjungan seperti yang saya dan teman-teman saya lakukan.
Ketika
saya memasuki perpustakaan yang telah disediaakan,saya begitu takjub dengan
buku-buku yang disediaakan sebab buku-buku yang ada benar-benar seperti surga
bagi mahasiswa komunikasi dalam membantunya belajar. Banyak sekali buku-buku
mengenai komunikasi dengan jumlah yang cukup, rapi, serta up to date. Tidak usang serta nyaman untuk dibaca Selain itu
dokumen-dokumen lama pun menambah kelengkapan perpustakaan. Ingin rasanya
seluruh buku yang ada diperpustakaan itu aku pindahkan ke perpustakaan FISIPOL
di Jogja.
Akhirnya
destinasi kita yang terakhir adalah menikmati Festifal Film Solo. Di sana kita
memang datang terlambat sehingga dari tiga film yang ditampilkan kami hanya
dapat melihat satu film saja. Sedikit kecewa memang, tetapi di sana saya
melihat suatu fenomena bahwa ternyata film sebagai media komunikasi mulai
digandrungi banyak orang. Hal ini telihat dari penuhnya penonton serta peserta
yang mengikuti acara ini. Antusiasme yang tinggi juga semakin besar seiring
dengan semakin majunya teknologi untuk membuat film. Tidak wajib punya kamera
super canggih dan belajar khusus film untuk bisa membuat film. Cukup keinginan
dan kemauan dengan modal seadanya pun bisa.
Banyak
hikmah yang bisa diambil. Dari itu semua sekali lagi saya ingin menegaskan
kata-kata bung Karno ‘Jas Merah’. Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah. Sekian,
itu tadi cerita perjalananku ke Solo. Perjalanan selanjutnya nantikan saja.
Komentar
Posting Komentar